Iklan Beranda

jtvbojonegoro
Selasa, 25 Agustus 2020, 14:24 WIB
Last Updated 2020-08-25T09:09:52Z
BojonegoroViewer

Petani Di Bojonegoro Resah, Harga Tembakau Anjlok


BOJONEGORO - Petani tembakau di kabupaten bojonegoro, resah akibat merosotnya harga tembakau pada musim panen kali ini. Harga tembakau kering rajang ditingkat petani, kini hanya berkisar 12 hingga 16 ribu rupiah per kilogram, atau anjlok drastis dibanding musim panen tahun lalu, yang mencapai kisaran, 29 ribu hingga 32 ribu rupiah tiap kilogramnya.

Kondisi tersebut seperti yang dirasakan para petani di desa kayulemah, kecamatan sumberrejo, kabupaten bojonegoro.
Memasuki musim panen kali ini, mereka dibuat resah dengan rendahnya harga tembakau kering rajang ditingkat petani. Mereka khawatir, merosotnya harga tembakau ini, makin tak terkendali sehingga membuat mereka merugi.

Saat ini, harga tembakau kering rajang, ditingkat petani, jatuh dikisaran 12 sampai 16 ribu rupiah per kilogram. Harga ini, jauh dibawah harapan petani, yang berharap harga tembakau setidaknya sama dengan tahun lalu, yang mencapai kisaran 29 hingga 32 ribu tiap kilogramnya.

Salahsatu petani tembakau, haji shodikin mengaku tak mengetahui pasti, penyebab anjloknya harga tembakau, musim ini.

Harga tembakau tiba-tiba anlok begitu saja, meski kualitas daun hasil panen, musim ini semakin baik. Selain minim serangan hama, tembakau yang dibudidayakan juga tumbuh subur dan berkualitas. Kalaupun ada daun tembakau yang tumbuh kerdil atau keriting, hal ini dinilai masih wajar, sebab jumlahnya sangat kecil, tak sampai lima persen dari luas areal tanaman yang di budidayakan petani.

Rendahnya harga tembakau ini, membuat petani khawatir. Sebab, , hal ini dapat mengancam pendapatan mereka atau bahkan mengalami kerugian yang cukup besar. Hal ini, karena selama bercocok tanam, mereka terlanjur mengeluarkan banyak modal dan biaya, baik saat pengolahan lahan, perawatan dan pemupukan, maupun biaya pemetikan dan pemrosesan daun basah menjadi kering rajang.

Selain itu, jika harga tembakau tak sesuai dengan yang diharapkan. Maka hal ini dapat membuat petani putus asa, atau bahkan, tak lagi bersemangat untuk menanam tembakau, di tahun depan.

Atas kondisi ini, para petani mengaku hanya dapat pasrah. Mereka berharap pemerintah turun tangan, sehingga harga tembakau kembali naik, dan tidak membuat petani semakin merugi.