Menu Atas

Iklan

jtvbojonegoro
Saturday, September 12, 2020, 14:11 WIB
Last Updated 2020-09-12T08:15:01Z
BojonegoroViewer

Musim Panen, Harga Tembakau Virginia Kering Rajang Merosot


BOJONEGORO - Para petani tembakau di kabupaten bojonegoro, resah akibat terus merosotnya harga tembakau pada musim panen kali ini. Harga tembakau kering rajang ditingkat petani, terus merosot sejak awal panen lalu, dari kisaran harga 30 ribu rupiah perkilogram, kini tinggal berkisar 10 ribu hingga 16 ribu rupiah saja tiap kilogramnya.

Kondisi tersebut seperti yang dirasakan para petani di dusun kedungdowo, desa sumberharjo, kecamatan sumberrejo, kabupaten bojonegoro. Harga tembakau kering jenis virginia yang terus merosot selama musim panen ini, membuat para petani setempat, kini menjadi resah.

Mereka khawatir, merosotnya harga tembakau ini, makin tak terkendali sehingga membuat mereka merugi.

Saat ini, harga tembakau kering rajang, tinggal berkisar 10 ribu rupiah per kilogram untuk kualitas rendah atau daun bawah, dan 16 ribu rupiah perkilogram untuk daun tengah atau kualitas bagus. Harga tembakau ini, dinilai cukup murah atau sangat rendah dibanding musim panen tahun lalu, yang mencapai kisaran harga 27 ribu rupiah perkilogram untuk daun bawah dan 30 ribu rupiah per kilogram untuk daun tengah.

Salahsatu petani tembakau virginia di dusun setempat, mad basar, mengaku tak mengetahui pasti, penyebab anjloknya harga tembakau musim ini. Mereka hanya menduga rendahnya harga tembakau ini, lebih disebabkan dampak cuaca yang tidak stabil. Langit mendung, mendadak hujan menyebabkan proses pengeringan tak maksimal, kondisi ini, berpengaruh pada kualitas produksi tembakau petani.

Padahal, menurutnya, tanaman tembakau umumnya sangat mengandalakan cuaca terik dan panas, terutama saat proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari.

Terus merosotnya harga tembakau ini, membuat petani khawatir. Sebab, saat ini, rata-rata musim panen baru memasuki pemetikan daun yang kelima. Selain itu rendahnya harga tembakau, juga dapat mengancam pendapatan petani atau bahkan mengalami kerugian yang cukup besar.

Atas kondisi ini, para petani mengaku hanya dapat pasrah. Mereka berharap pemerintah turun tangan, sehingga harga tembakau kembali naik, dan tidak membuat petani semakin merugi.