BRAVO

BRAVO

Iklan Gambar

Iklan Gambar
jtvbojonegoro
Saturday, October 3, 2020, 14:23 WIB
Last Updated 2020-10-06T05:57:25Z
TubanViewer

Melihat Wisata Dan Tempat Rehabilitasi Di Kampung Kusta

Reporter: Khusni Mubarok
 
TUBAN - Kabupaten tuban, memiliki sebuah kampung tempat rehabilitasi warga yang terkena penyakit kusta. Tempat ini, kemudian dijuluki kampung kusta, lantaran sebagian eks penderita kusta menetap di kampung tersebut. Meski demikian, kampung ini juga memiliki potensi wisata alam sumber air panas yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Seperti apa? Berikut liputannya untuk anda.

“kampung kusta” di kabupaten tuban, memiliki sebuah potensi wisata alam. Wisata tersebut terletak di desa kedungjambe, kecamatan singgahan, kabupaten tuban. Warga sekitar menyebutnya dengan nama hot spring atau sumber mata air panas. Lokasinya cukup unik, karena berada tepat di tengah aliran sungai.
 
Air panas yang terus memancar sepanjang tahun mengandung banyak belerang, mineral, dan kalsium. Kandungan zat ini membuat mata air panas ini kerap digunakan terapi pengobatan sejumlah penyakit. Diantaranya  penyakit kulit, stroke, serta rematik.
 
Setelah bertahun-tahun, potensi alam ini dapat diakses untuk kunjungan wisata. Pada hari pertama pembukaan, pengunjung masih bebas tanpa dipungut biaya. Namun kedepan rencananya pengunjung dikenakan tiket masuk rp2.000 per orang.
 
Selain terapi air panas, pengunjung juga dapat berfoto narsis dengan latar eksotisme alam sekitar. Pengelolaan tempat wisata ini diharapkan dapat menambah pendapatan asli desa.
 
Sementara tak jauh dari lokasi wisata tersebut, terdapat sebuah panti unit pelaksana teknis rehabilitasi sosial bina lara kronis atau upt rsblk tuban. Banyaknya pasien yang menjalani rehabilitasi, dan sebagian diantaranya yang sudah sembuh menetap di kampung ini, membuat desa kedungjambe dijuluki sebagai “kampung kusta”.
 
Kusta atau lepra sejatinya bukan penyakit keturunan atau kutukan karena kusta disebabkan infeksi dari bakteri mycobacterium yang menyerang kulit manusia dan 20 tahun lamanya masa inkubasi bakteri tersebut. Namun, penderita kusta perlu penanganan khusus baik saat pengobatan maupun pasca pengobatan.
 
Di tempat rehabilitasi milik dinas sosial propinsi jawa timur ini, terdapat sedikitnya 100 klien. Mereka saat ini mendapatkan rehabilitasi, sedangkan untuk penderita yang sudah negatif kusta tercatat 169 kepala keluarga sembuh dan kembali ke lingkungan masyarakat.
 
Meski demikian, kalangan masyarakat masih mengisolasi eks klien serta mengucilkan penderita kusta di lingkungan sosial, sehingga sebagian pasien yang sembuh, menetap di sekitar tempat rehabilitasi ini.
 
Salah satunya adalah fatimah. Perempuan asal kota nganjuk ini, yang lebih memilih bertempat tinggal di area RSBLK tuban, daripada harus kembali ke kampung halaman karena kekhawatiran tidak diterima masyarakat.
 
Fatimah mengaku bila penyakit kusta dideritanya sudah mulai negatif atau sembuh. Akan tetapi, kesembuhan ini tidak ada jaminan, dirinya diterima di tengah masyarakat.
 
Saat ini, fatimah bersama teman-teman seperjuangannya, mengisi keseharian dengan membuat berbagai keterampilan, seperti membuat sapu lidi. Sementara pasien laki-laki diberi keterampilan berupa pembuatan paving hingga kerajinan meubel, sepeperti membuat meja, kursi hingga almari kayu.
 
Sementara itu, menurut alwi, kepala dinas sosial provinsi jawa timur sejauh ini terus menurun. Karena masyarakat sudah sadar dan sudah mau mengambil langkah-langkah dini dengan melakukan pemeriksaan kesehatan.
 
Sementara itu, pihak pemprov jatim melakukan berbagai upaya agar eks penderita kusta tetap punya penghasilan, yakni dengan memberikan bekal berbagai keterampilan di tempat rehabilitasi kusta.