BOJONEGORO – Suasana libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 di kawasan wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, terasa semakin semarak dengan dihadirkannya pagelaran seni budaya Campursari Wahyu Laras oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat, Rabu (31/12/2025).
Sejak pagi, wisatawan terus berdatangan. Tak hanya untuk berlibur, namun juga menyaksikan secara langsung penampilan campursari Wahyu Laras. Irama sinden dan denting gamelan menghadirkan suasana hangat, menjadikan Kayangan Api bukan sekadar tempat rekreasi, namun moment dimana alunan musik jawa yang jarang terdengar bisa kembali dinikmati.
Zainal Baraka (22), Master of Ceremony, merasa senang melihat antusiasme pengunjung yang datang. Ditemani 10 personel campursari Wahyu Laras, beberapa sinden, vokalis, dan para musisi, mereka berhasil menghidupkan suasana sejak pagi. pagelaran seni budaya seperti ini diharapkan dapat terus dilestarikan khususnya oleh pemangku kebijakan, sehingga budaya lokal tetap di tengah arus modernisasi.
"Saya sangat senang melihat antusias pengunjung mulai pagi sudah mulai memenuhi lokasi campursari, saya berharap semoga pelestarian budaya lokal semakin maju dan berkembang, dan semoga ditahun berikutnya acara seperti ini bisa lebih meriah lagi dan tentunya Kabupaten Bojonegoro menjadi Kabupaten yang lebih maju dan berkembang,” tuturnya.
Kehadiran jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro menjadi penanda kuat dukungan pemerintah daerah terhadap seni budaya.
Haidar Putra (23), Adyatama Kepariwisataan, menegaskan bahwa kesenian campursari bukan hanya hiburan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya sekaligus menguatkan daya tarik wisata Kayangan Api sebagai destinasi geopark unggulan. Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini juga memberi dampak nyata bagi pergerakan ekonomi UMKM di sekitar kawasan wisata.
"Acara campursari ini sangat penting bagi kelestarian budaya lokal, selain itu acara-acara ini diharapkan masuk ke objek wisata karena, objek wisata ini merupakan salah satu prioritas dari Kabupaten Bojonegoro dan merupakan suatu geopark yang harus dilestarikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Abdul Matin (45), wisatawan asal Sokosari, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, mengaku sengaja datang bersama keluarga untuk mengisi libur Nataru. Ia menilai pertunjukan campursari sangat penting untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda agar sejarah dan tradisi tidak tergerus zaman.
“Saya kesini dengan keluarga dan pas ada acara campursari ini jadi bisa memperkenalkan budaya jawa ke anak saya. Saya harap acara seperti ini harus dilestarikan agar anak muda tahu tentang sejarah,” tegasnya. (zdn,nrl,nda)

