jtvbojonegoro
Senin, 30 Maret 2026, 20:28 WIB
Last Updated 2026-03-30T13:33:03Z
Gaspol Lek

Lakon Pulang: Menjemput Nyawa di Rahim Teater Sua


Oleh: Ahmad Imam Mabrurin


Panggung teater mungkin memiliki batas fisik berupa lampu panggung dan dinding auditorium, namun panggung kehidupan yang sesungguhnya seringkali tidak bertepi. Setelah bertahun-tahun kita semua hanyut dalam arus kesibukan masing-masing bermetamorfosis menjadi profesional, pengusaha, orang tua, hingga pengejar mimpi di berbagai penjuru kota—ada satu titik jenuh di mana batin kita berbisik lirih: Kapan kita benar-benar pulang?

Maka, pertemuan bertajuk "Lakon Pulang" di Villa Aleena, Trawas kemarin, bukan sekadar agenda rutin tahunan atau formalitas halalbihalal pasca-Idulfitri. Bagi saya, dan mungkin bagi seluruh keluarga besar Teater Sua Surabaya, ini adalah sebuah ritus pencarian akar yang sakral—sebuah momentum untuk menjemput kembali nyawa kreatif yang mungkin sempat tersisih oleh rutinitas.

Tradisi yang Melampaui Kata Maaf

Di Indonesia, Idulfitri dan halalbihalal telah menjadi napas kebudayaan yang luar biasa. Namun, dalam komunitas kreatif, tradisi ini mengalami perluasan makna. Maaf bukan lagi sekadar lisan yang berucap di ujung jabat tangan, melainkan sebuah peluruhan "topeng". Di dunia luar, kita mungkin dipaksa memakai topeng jabatan atau status sosial agar terlihat tangguh. Namun, di bawah kabut tipis Trawas, semua topeng itu kita tanggalkan secara sukarela.

Kita kembali menjadi "anak sanggar"—sosok-sosok yang dulu pernah jatuh bangun, berdebat keras tentang sebuah adegan, hingga berbagi sebungkus nasi di sela latihan yang melelahkan. Inilah esensi pertemuan komunitas: sebuah ruang aman di mana kita diterima bukan karena apa yang kita miliki saat ini, melainkan karena sejarah dan proses kreatif yang pernah kita rajut bersama.

Menghidupkan Kembali Proses yang "Hibernasi"

Proses kreatif bukanlah sesuatu yang memiliki titik henti; ia bisa saja beristirahat, namun tidak pernah mati. Sebagaimana gagasan yang melatarbelakangi pertemuan ini, "Lakon Pulang" adalah bentuk ekspresi dari ide-ide yang sempat tersimpan di ruang kedap. Kita semua adalah aktor di panggung dunia yang berbeda-beda, namun di acara kemarin, kita menyadari bahwa "darah seni" itu tetap mengalir sama derasnya.

Proses kreatif di teater mengajarkan kita tentang kejujuran emosi. Saat kita duduk melingkar dan berbagi cerita tentang kegagalan serta keberhasilan hidup pasca-sanggar, sebenarnya kita sedang melakukan sebuah proses dramaturgi kehidupan. Kita sedang saling membedah naskah baru yang sedang kita jalani masing-masing, memberikan penguatan, dan saling belajar dari "peran" nyata yang kita emban sekarang.

Satu Akar, Beribu Cabang

Teater Sua bukan sekadar organisasi; ia adalah sebuah ekosistem. Kedewasaan sebuah komunitas diuji ketika ia mampu merangkul lintas generasi—dari para perintis yang legendaris hingga adik-adik angkatan termuda yang membawa semangat baru. Reuni ini membuktikan bahwa perbedaan usia dan latar belakang pekerjaan tidak menjadi sekat saat kita berbicara dalam bahasa "Sua".

Ada haru saat melihat kawan lama yang kini sudah memiliki peran baru sebagai orang tua, namun mata mereka tetap berbinar dengan semangat yang sama seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Ini membuktikan bahwa ikatan komunitas yang berlandaskan seni dan rasa memiliki (sense of belonging) memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat daripada ikatan formal lainnya. Sejauh apa pun daun pepaya (godong kates) itu menjari dan tertiup angin, ia akan selalu punya satu pangkal yang kokoh.


Menutup Tirai untuk Membuka Babak Baru

Kini, saat tirai di Villa Aleena telah diturunkan, bukan berarti ceritanya usai. Pertemuan ini adalah bahan bakar bagi jiwa yang mulai kering. Kita pulang ke rumah masing-masing dengan membawa energi yang telah diisi ulang. Pesan moral dari kepulangan ini adalah tentang keberanian untuk terus berekspresi, meski panggung kita tak lagi sama.

Terima kasih untuk setiap tawa yang pecah, setiap pelukan yang menguatkan, dan setiap doa yang terucap—baik dari mereka yang hadir memenuhi ruangan maupun rekan-rekan yang dukungannya tetap terasa meski raga terhalang jarak dan kewajiban lainnya.

Sampai jumpa di panggung-panggung berikutnya. Teruslah bermain peran dengan sebaik-baiknya di dunia luar, dan jangan pernah lupa jalan setapak menuju "rumah" ini. Karena bagi kita, Sua bukan sekadar nama, melainkan sebuah cara kita mencintai kehidupan dan menjaga kemanusiaan kita tetap utuh.

Dalam Lingkaran Besar
Salam Budaya, Hidup Sua...!