TUBAN – Krisis gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Tuban kian meluas. Antrean panjang masih terlihat di sejumlah pangkalan pada Selasa pagi, bahkan warga harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan gas bersubsidi.
Seperti yang terpantau di Jalan Brawijaya, Kelurahan Kebonsari, serta Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Kutorejo, puluhan warga rela mengantre sejak pagi hari. Tabung-tabung kosong pun dijajarkan sebagai tanda antrean.
Sejumlah warga mengaku sudah datang sejak pukul 09.00 WIB, namun hingga siang hari stok gas belum juga tersedia. Meski demikian, mereka tetap bertahan karena kebutuhan memasak untuk keluarga.
Salah satu warga, Lastri, mengaku terpaksa menunggu tanpa kepastian.
“Sudah dari pagi antre, tapi belum tahu kapan datangnya. Mau tidak mau harus nunggu, karena gas di rumah sudah habis,” ujarnya kepada reporter JTV (07/04/2026).
Kelangkaan gas melon ini disebut telah terjadi sejak sepekan terakhir. Warga bahkan harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain demi mendapatkan LPG. Tak sedikit pula yang rela menempuh jarak jauh untuk mengejar truk distribusi.
Hal senada juga disampaikan Nur Hayati, yang mengaku kesulitan mendapatkan gas untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sudah muter-muter cari gas, tapi sering kosong. Kalau ada, langsung habis diserbu warga,” ungkapnya.
Kondisi ini memicu kepanikan warga. Saat truk pengangkut datang, warga langsung berdesakan karena khawatir tidak kebagian. Dalam hitungan jam, ratusan tabung gas langsung ludes terjual.
Akibat kelangkaan ini, aktivitas rumah tangga warga pun terganggu. Banyak warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat agar distribusi gas kembali normal.
Sementara itu, pihak Pertamina melalui Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebut telah menyiapkan langkah antisipasi.
“Kami telah menambah sekitar 779 ribu tabung LPG untuk wilayah Jawa Timur guna mengatasi kelangkaan yang terjadi,” jelasnya.
Dengan tambahan pasokan tersebut, diharapkan distribusi LPG 3 kilogram di Tuban dan daerah lain di Jawa Timur bisa segera kembali normal, sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan kebutuhan energi rumah tangga. (Dzik/im)

