TUBAN - Aktivitas produksi tempe rumahan milik Tri Mulyani, warga Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Tuban, hingga kini masih terus berjalan. Namun, usaha kecil tersebut mulai terhimpit akibat lonjakan harga kedelai impor dalam beberapa pekan terakhir.
Dari data yang di himpun JTV, saat ini harga kedelai impor sebagai bahan baku utama pembuatan tempe mencapai Rp.10.500 per kilogram. Harga tersebut naik sekitar Rp.1.500 hingga Rp.2.000 dibanding harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp.8.000 hingga Rp.9.000 per kilogram.
Kenaikan harga bahan baku membuat para pelaku usaha kecil harus memutar otak agar tetap bisa mempertahankan usahanya di tengah persaingan pasar.
Tri Mulyani mengaku memilih tidak menaikkan harga jual tempe demi menjaga pelanggan tetap membeli produknya. Sebagai gantinya, ia terpaksa memperkecil ukuran tempe agar biaya produksi tetap tertutupi.
“Kalau harga dinaikkan takut pelanggan berkurang, jadi sementara ukuran tempe yang dikurangi supaya usaha tetap jalan,” ungkap Tri Mulyani.
Dalam sehari, rumah produksi miliknya mampu mengolah sekitar 75 hingga 80 kilogram kedelai. Bahkan saat permintaan meningkat, kebutuhan bahan baku bisa mencapai satu setengah kuintal per hari.
Meski harga kedelai naik, tempe produksinya masih dijual dengan harga Rp2.000 hingga Rp3.000 per potong, tergantung ukuran.
Selain mahalnya harga kedelai impor, produsen juga mengaku kedelai lokal belum bisa menjadi alternatif utama. Pasalnya, kualitas kedelai lokal dinilai masih kalah dibanding kedelai impor dan pasokannya juga tidak menentu.
Tri berharap harga kedelai impor dapat kembali stabil agar para pelaku usaha tempe rumahan dapat bertahan tanpa harus membebani konsumen.
“Harapannya harga kedelai bisa turun lagi supaya produsen kecil seperti kami tidak semakin kesulitan dan masyarakat juga tetap bisa membeli tempe dengan harga terjangkau,” pungkasnya. (dzik/im)

