Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Selasa, 11 Agustus 2026, 15:55 WIB
Last Updated 2026-08-11T08:55:55Z
BojonegoroViewerViralWisata | Kuliner

Gen Z Bojonegoro Serius Kembangkan Melon Premium Hidroponik, Dengan Keuntungan Puluhan Juta Rupiah


BOJONEGORO - Di tengah perkembangan pertanian modern, Wahyu Nurmadin Azhar (23), pemuda asal Desa Sumodikaran RT 004 RW 002, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, serius menekuni budidaya buah melon premium menggunakan greenhouse dengan sistem hidroponik NFT atau Nutrient Film Technique.

Menariknya, Wahyu yang masih tergolong generasi Z ini juga berprofesi sebagai anggota Kepolisian Resor Bojonegoro dengan pangkat Bripda. Di sela aktivitasnya sebagai polisi, ia mengembangkan usaha pertanian modern yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup menjanjikan.

Menurut Wahyu, budidaya melon, khususnya jenis premium, masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena nilai jualnya relatif tinggi. Selain itu, melon juga menjadi salah satu buah yang banyak dikonsumsi masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sehingga permintaannya di pasaran dinilai masih cukup tinggi.

Wahyu mulai serius mengembangkan budidaya melon sejak akhir 2023. Dengan dibantu dua orang pekerja, ia mengaku telah menginvestasikan modal hingga ratusan juta rupiah untuk membangun sarana budidaya tersebut.

Saat ini, Wahyu telah memiliki dua unit greenhouse dengan rangka besi. Masing-masing memiliki luas sekitar 500 meter persegi dan 600 meter persegi.

"Awalnya mulai akhir tahun 2023. Saya membangun satu greenhouse dengan rangka bambu. Karena dinilai menjanjikan, akhirnya saya mengembangkan lagi dengan membangun dua greenhouse menggunakan rangka besi," ujar Wahyu Nurmadin Azhar.

Menurutnya, budidaya melon menggunakan greenhouse memang membutuhkan modal cukup besar dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun, dengan keseriusan serta pemahaman mengenai teknik budidaya, proses perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terukur.

Greenhouse atau rumah kaca merupakan struktur bangunan tertutup yang dirancang untuk menciptakan lingkungan yang lebih terkendali bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi di dalam greenhouse dapat diatur untuk membantu mengoptimalkan suhu, kelembapan, pencahayaan, hingga sirkulasi udara.

Sementara sistem hidroponik NFT merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, dengan cara mengalirkan lapisan tipis larutan air yang mengandung nutrisi secara terus-menerus melewati bagian akar tanaman.

Penggunaan greenhouse juga memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari perlindungan tanaman terhadap cuaca ekstrem, membantu mengendalikan hama dan penyakit, memperpanjang masa tanam, hingga meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Untuk membangun satu unit greenhouse rangka besi berukuran panjang 50 meter dan lebar 10 meter atau seluas 500 meter persegi, Wahyu mengaku membutuhkan modal sekitar Rp200 juta.

Biaya tersebut sudah mencakup pembangunan greenhouse, pembuatan media tanam hidroponik NFT, instalasi pendukung, kipas angin, mesin pompa air, sejumlah perlengkapan budidaya, hingga pemasangan 10 unit kamera CCTV untuk memantau kondisi area greenhouse.

Dalam satu greenhouse seluas 500 meter persegi, dapat ditanam sekitar 1.200 pohon melon. Dari jumlah tersebut, tingkat tanaman yang dapat tumbuh dengan baik berkisar antara 80 hingga 90 persen.

Dalam setahun, satu greenhouse dapat menghasilkan hingga empat kali panen. Setiap kali panen, produksi buah melon dapat mencapai sekitar dua ton.

Dengan harga jual berkisar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, satu kali panen dari satu greenhouse mampu menghasilkan omzet kotor sekitar Rp35 juta hingga Rp40 juta.

"Satu greenhouse luas 500 meter persegi bisa menampung sekitar 1.200 tanaman. Kalau pertumbuhannya bagus, sekitar 80 sampai 90 persen bisa hidup. Dalam setahun bisa empat kali panen, dan sekali panen hasilnya sekitar dua ton," jelas Wahyu.

Selain menjadi lokasi budidaya, greenhouse milik Wahyu juga dikembangkan sebagai wisata petik buah melon. Pengunjung dapat melihat secara langsung proses budidaya sekaligus menikmati pengalaman memetik melon.

Salah satu pengunjung, Teguh Saputra (20), warga desa setempat, mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke wisata petik buah melon milik Wahyu.

Menurutnya, konsep wisata tersebut menarik karena pengunjung tidak hanya membeli buah, tetapi juga dapat melihat langsung proses budidaya melon dengan teknologi hidroponik di dalam greenhouse.

Budidaya melon dengan greenhouse kini menjadi salah satu alternatif pertanian modern yang memungkinkan petani mengontrol kondisi lingkungan tanaman dengan lebih baik.

Untuk membangun greenhouse, kerangka dapat menggunakan berbagai material, mulai dari bambu, kayu, hingga besi. Ketinggian bangunan umumnya sekitar tiga meter, sedangkan panjang dan lebarnya dapat disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia.

Bagian atap dapat menggunakan jaring kasa atau insect net, sementara dindingnya menggunakan jaring halus yang tetap memungkinkan sirkulasi udara sekaligus membantu melindungi tanaman dari masuknya hama.

Bagi Wahyu, pengembangan budidaya melon modern tersebut bukan hanya menjadi peluang usaha, tetapi juga menjadi upaya untuk menunjukkan bahwa generasi muda dapat terjun ke sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi. (red/*)