TUBAN — Angin kencang disertai hujan deras merobohkan sebagian tenda dalam rangkaian acara peringatan Hari Listrik Nasional yang digelar di kawasan industri PT PLN Nusantara Power (PLN NP) UP PLTU Tanjung Awar-Awar, Desa Jenu, Kabupaten Tuban, Rabu malam (28/10/2026). Insiden akibat cuaca ekstrem ini menyebabkan dua warga lanjut usia (lansia) mengalami luka-luka.
Berdasarkan data yang dihimpun, perayaan Hari Listrik Nasional tersebut diisi dengan berbagai kegiatan besar, mulai dari fun walk (jalan sehat) pada pagi hari hingga panggung hiburan megah hingga malam.
Acara ini mendatangkan penyanyi dangdut papan atas asal Jawa Timur, Difarina Indra, serta sejumlah musisi kondang lainnya. Rangkaian acara malam keakraban dengan masyarakat itu bahkan berlanjut dengan hiburan wayang, sebelum akhirnya terpaksa dihentikan akibat diterpa hujan deras dan angin kencang.
Kasi Humas Polres Tuban, M. Ikhsan, membenarkan adanya insiden robohnya tenda dan dua orang warga lansia asal Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, yakni pasangan suami istri bernama Marsilan (71) dan Karmila (71) mengalami luka-luka. Ikhsan merinci kronologi kejadian tersebut berdasarkan laporan resmi kepolisian:
"Sekira pukul 21.15 WIB, setelah pembacaan doa tiba-tiba hujan turun dengan lebat sehingga penonton berlarian mencari tempat berteduh di dalam tenda tamu VIP/undangan. Karena atap tenda tidak kuat menahan beban air hujan, akhirnya tenda roboh secara perlahan sehingga pengunjung berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Saat itu terdapat suami istri manula yang terjatuh pada saat berlari. Akibatnya, kedua orang suami istri tersebut mengalami beberapa luka ringan babras dan nyeri pinggang," ujar M. Ikhsan dalam keterangannya.
Lebih lanjut, pihak kepolisian membeberkan kondisi medis kedua korban:
Marsilan (71): Warga Dusun Kalirejo, Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu. Kondisi sadar, keadaan umum baik, terdapat luka babras di bagian kaki, serta mengeluh nyeri pada bagian pantat.
Karmila (71): Warga Dusun Kalirejo, Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu. Keadaan umum baik, terdapat luka babras di tangan, pelipis bengkak karena benturan, serta mengeluh nyeri di bagian lutut.
Sementara itu, Khoirul Huda, salah satu tamu undangan yang hadir di lokasi kejadian, turut menceritakan detik-detik menegangkan saat cuaca ekstrem menerjang arena perayaan. Menurutnya, tanda-tanda cuaca buruk sebenarnya sudah dirasakan sejak awal acara dibuka.
"Mulai dari pembukaan acara sebenarnya sudah mulai turun hujan ringan. Namun, setelah pembacaan doa dan tausyiah dari tokoh masyarakat, hujan mendadak turun dengan sangat lebat yang akhirnya memicu peristiwa tersebut," ungkap Huda.
Huda menuturkan, sebelum hujan turun lebat, warga sempat antusias menyaksikan hiburan di area lapangan terbuka. Namun, saat air mengguyur semakin deras, para pengunjung berbondong-bondong menepi untuk mencari perlindungan.
"Warga menepi dan berteduh di bawah tenda, termasuk tenda untuk tamu yang akhirnya penuh sesak oleh warga dengan posisi berdiri. Karena hujan semakin lebat, warga mulai berlari mencari tempat lain ketika melihat tenda mulai miring dikarenakan derasnya hujan. Akhirnya acara pun dihentikan," tambahnya.
Di sisi lain, perwakilan manajemen PLTU Tanjung Awar-Awar, Awang Asmoro, memberikan tanggapan terkait insiden tersebut. Ia membenarkan bahwa ada sebagian tenda yang roboh akibat faktor alam.
"Nggih mas, ada sebagian tenda yang rubuh karena faktor alam, bukan saat agenda funwalk pagi tapi agenda malam keakraban dengan masyarakat," jawab Awang saat dikonfirmasi.
Namun, pernyataan kontradiktif muncul ketika Awang ditanya mengenai adanya korban jiwa atau luka dalam insiden tersebut. Ia justru menyebut bahwa tidak ada korban dalam kejadian itu. Keterangan ini bertolak belakang dengan data valid dan laporan detail yang dirilis oleh pihak Kepolisian Resor Kota Tuban.
Di luar insiden robohnya tenda, perhelatan mewah ini turut menuai sorotan tajam. Di saat perusahaan gencar mengampanyekan efisiensi anggaran energi, kebijakan kontroversial justru ditunjukkan oleh manajemen PLTU Tanjung Awar-Awar.
Alih-alih melakukan penghematan, instansi vital penopang kelistrikan ini justru menggelar panggung hiburan megah berbiaya fantastis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tarif manggung untuk bintang tamu utama Difarina Indra (naungan OM Adella) diperkirakan berada di kisaran Rp50 juta hingga Rp100 juta untuk skala privat, dan bisa melonjak jauh lebih tinggi untuk konser terbuka di hadapan ribuan massa.
Jika ditotal dengan penyediaan panggung megah, sistem suara (sound system), pengisi acara lain, serta rangkaian kegiatan yang berlangsung seharian, anggaran acara ini ditaksir mencapai angka ratusan juta rupiah.
Sayangnya, saat dikonfirmasi awak media terkait besaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang digelontorkan untuk menggelar perayaan mewah tersebut, Asisten Manajer (Asman) SDM, Umum, dan CSR sekaligus Humas PT PLN NP UP PLTU Tanjung Awar-Awar memilih bungkam dan enggan memberikan jawaban.(dzi)

