JTV

JTV

Iklan

jtvbojonegoro
Friday, August 21, 2020, 15:21 WIB
Last Updated 2020-08-21T08:21:32Z
BojonegoroViewer

Ruwatan Massal Di Obyek Wisata Kayangan Api


BOJONEGORO - Sebanyak 43 orang mengikuti ruwatan massal yang diselenggarakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten bojonegoro. Acara yang digelar di objek wisata kayangan api desa sendangharjo, kecamatan ngasem, kabupaten bojonegoro, juga digelar pagelaran wayang kulit yang mengambil lakon murwakala, dengan menghadirkan dalang ki syaimo gondho carito.

Ruwatan massal yang diikuti oleh 43 orang tersebut dibuka langsung oleh wakil bupati bojonegoro, drs budi irawanto mpd, dan dihadiri oleh forkopimda kabupaten bojonegoro, fopimca ngasem serta pemdes sendangharjo kecamatan ngasem.

Kepala dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten bojonegoro, budiyanto mengatakan, kegiatan ruwatan tersebut digelar secara massal karena perlu ada syarat-syarat dan biaya yang perlu di cukupi oleh para peserta. Oleh karenanya, ruwatan digelar secara massal agar meringankan kebutuhan para peserta.

Budiyanto menjelaskan bahwa, kegiatan ruwatan massal tersebut sebagai bentuk pelestarian tradisi budaya kearifan lokal dan kesenian wayang kulit yang semakin langka. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan paguyupan dalang dan seniman ruwat kabupaten bojonegoro, khususnya di kecamatan ngasem.

Ruwatan massal ini juga sekaligus sebagai uji coba penerapan protokol kesehatan covid-19, di era adaptasi kebiasaan baru atau new normal.

Sementara itu, wakil bupati bojonegoro, Drs Budi Irawanto Mpd, mengatakan. Sebagian besar masyakarat jawa yang ada di kabupaten bojonegoro, masih mempunyai kepercayaan jika merasa mempunyai salah atau mengucapkan sumpah karena janji yang belum ditepati, maka akan mengalami kondisi yang tidak tenang dan was-was dalam hidupnya.

Selain itu dalam kelurga yang mempunyai anak dengan jumlah tertentu yang masuk kategori anak tertentu atau dalam istilah jawanya bocah sukerto. Maka, sebelum keluarga tersebut dapat melepas sial dengan ruwatan maka mereka akan selalu gelisah, dihantui rasa takut, dan menjadi beban seumur hidup.

Selain untuk menguragi beban masyarakat yang menyandang sukerto dalam kondisi kurang mampu, kegiatan ruwatan tersebut dalam rangka melestarikan budaya leluhur yang sudah berjalan turun-temurun dan sudah menjadi kearifan lokal di kabupaten bojonegoro.