Iklan

Sketsa Bengawan
Monday, April 4, 2022, 14:13 WIB
Last Updated 2022-04-05T04:26:21Z
TubanViewerViral

Sumur Srumbung, Sumur Air Tawar Di Tepi Laut Peninggalan Sunan Bonang


SKETSA RAMADHAN - Syaikh maulana makhdum ibrahim atau sering dikenal sebagai sunan bonang, merupakan putra ke empat sunan ampel dengan nyai ageng manila, putri bupati tuban arya teja.

Semasa kecil, sunan bonang diasuh oleh ayahnya sendiri, sunan ampel, dan sesekali beliau juga ke tuban untuk belajar sastra dan kesenian. Hal inilah yang membuat sunan bonang lebih diterima masyarakat pada zaman dulu. Karena beliau lebih toleran kepada masyarakat jawa hindu.

Selain itu, dalam menyebarkan ajaran agama islam, beliau menggunakan cara yang banyak disukai oleh masyarakat zaman dulu. Seperti, gamelan, wayang, dan kesastraan.

Menurut cerita rakyat, sunan bonang wafat di lasem, dan santrinya yang ada di madura, berniat membawa jasadnya ke madura. Namun dalam perjalanan, perahu yang ditumpangi berputar-putar di laut tuban, dan salah satu murid beliau ditemui oleh sosok sunan bonang dan meminta agar beliau dimakamkan di tuban. Sementara kain kafan beliau dibawa santrinya ke madura.

Hal ini membuat makam sunan bonang ada di 3 tempat, yakni di lasem rembang, jawa tengah. Di pulau madura dan di kabupaten tuban. Meski demikian, ketiga makam sunan bonang tersebut, selalu ramai oleh para peziarah. Tak terkecuali makamnya yang ada di kelurahan kutorejo, kecamatan tuban kota, kabupaten tuban.

Selain makam, sunan bonang juga memiliki bukti peninggalan sejarah semasa beliau berdakwah di kota tuban. Salah satunya ialah sumur srumbung, yang terletak di dekat pantai tuban, tepatnya di kelurahan sidomulyo.

Menurut cerita, ada seorang pendeta brahmana asal india yang hendak menemui sunan bonang. Pendeta tersebut bermaksud hendak mengadu ilmu dan kesaktiannya.

Sesampainya di tuban, brahmana ini mengurungkan niatnya karena buku - bukunya hilang di telan ombak di tengah perjalanan. Singkat cerita, pendeta ini bertemu dengan sunan bonang yang memukul - mukulkan tongkatnya ke tanah beberapa kali.

Tak berselang lama, keluarlah air yang kian membesar dari lubang bekas pukulan sunan bonang. Buku - buku yang hilang ditelan ombak milik sang pendeta hindu ini pun juga turut keluar. Melihat kesaktian sunan bonang, sang pendeta ini masuk islam dan menjadi murid beliau.

Sementara, lambat laun sumber air bekas pukulan sunan bonang tersebut kian membesar. Air tawar terus keluar dari tanah, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah sumur. Sunan bonang pun memerintahkan muridnya itu untuk membuat srumbung atau semacam pagar. Pagar itu dibuat, agar air tak meluap terus ke tanah sekaligus menjaga sumber air ini.

Meski terletak di dekat pantai, air yang keluar dari sumur srumbung ini tidak terasa asin. Bahkan, disaat kemarau panjang sekalipun, sumur dengan kedalaman 3 meter ini tetap mengeluarkan air tawar.

Hingga sekarang, air yang memancar dari kesaktian sunan bonang ini dikenal dengan nama sumur srumbung. Air sumur ini dipercaya peziarah memberi berkah.