Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Rabu, 16 Agustus 2023, 16:39 WIB
Last Updated 2023-08-16T09:39:20Z
Edukasi | BudayaNganjukPojok PituViewerViral

Dua Bunker Jepang di Nganjuk jadi Saksi Bisu Praktik Romusha


NGANJUK - Dua bunker peninggalan Jepang masih berdiri kokoh di kaki Gunung Wilis, tepatnya berada di Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Bunker ini berbentuk melengkung setengah lingkaran dan mempunyai satu pintu masuk.

Sementara panjang bangunan luar berkisar 11 meter. Sedangkan tinggi bangunan luarnya 3 meter dan tinggi dalamnya 2,5 meter, serta lebar sekitar 6,3 meter. Bangunan kokoh berbahan batu sungai dan bata merah ini didirikan jepang sebagai tempat perlindungan melawan pasukan sekutu.

Pemerhati sejarah dan budaya Nganjuk, Aries Trio Effendi mengatakan, bunker di tengah ladang singkong dan hutan jati ini menjadi saksi bisu praktik romusha di Nganjuk. Romusha merupakan kerja paksa yang dilakukan penjajah jepang terhadap pribumi untuk membangun infrasktruktur.

“Bunker ini dibangun sekitar tahun 1942. Sementara pembangunannya difungsikan untuk tempat pertahanan menghadapi pasukan sekutu,” ungkapnya, Rabu (16/08/2023).

Saat ini, kedua bunker telah ditumbuhi semak belukar. Beberapa lubang ventilasinya masih terlihat di bagian atas pintu masuk. Sedangkan lubang kecil di samping kanan dan kiri pintu masuk digunakan untuk meletakkan moncong senjata.
 
Aries mengungkapkan, prajurit pembela tanah air atau peta yang dipimpin oleh Supriyadi, pernah dipenjara di dalam bunker ini. “Mereka ditangkap setelah melakukan upaya pemberontakan di wilayah Blitar,” terangnya.

Meski kondisi bunker tak terawat, para pecinta sejarah dan budaya di Nganjuk berharap, masyarakat yang datang ke tempat ini tidak melakukan pengrusakan maupun corat-coret di dindin bangunan. Sehingga bangunan sejarah ini tetap terjaga. (as/rok)