Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Selasa, 28 April 2026, 16:09 WIB
Last Updated 2026-04-28T09:09:12Z
NgawiPojok PituViewerViral

Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku, Produksi Kripik Tempe di Ngawi Menurun Drastis


NGAWI - Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, plastik, dan kedelai berdampak signifikan terhadap pelaku usaha rumahan keripik tempe di Kabupaten Ngawi. Kondisi ini dirasakan puluhan pengusaha di Dusun Sadang, Desa Karangtengah Prandon, yang dikenal sebagai sentra industri keripik tempe.

Para pelaku usaha mengaku terbebani dengan lonjakan harga bahan produksi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu pemilik usaha, Kasaid, menyebut biaya produksi kini meningkat cukup tajam.

Ia menjelaskan, harga minyak goreng yang sebelumnya sekitar Rp18 ribu per liter kini naik menjadi Rp21 ribu per liter. Sementara itu, harga kedelai turut mengalami kenaikan dari Rp9 ribu menjadi Rp10.600 per kilogram. Tak hanya itu, harga plastik untuk kemasan juga melonjak hingga hampir dua kali lipat.

“Kenaikan ini sangat terasa bagi kami. Hampir semua bahan naik, terutama minyak dan kedelai. Otomatis biaya produksi juga ikut naik,” ujar Kasaid.

Kondisi tersebut memaksa para pelaku usaha untuk menaikkan harga jual keripik tempe. Meski sempat mendapat keluhan dari konsumen, langkah ini tetap diambil agar usaha mereka bisa terus berjalan.

“Awalnya banyak pelanggan yang mengeluh karena harga naik, tapi kami tidak punya pilihan. Kalau tidak dinaikkan, usaha bisa berhenti,” tambahnya.

Selain menaikkan harga jual, dampak lain yang dirasakan adalah penurunan frekuensi produksi. Jika sebelumnya produksi dilakukan setiap hari, kini hanya bisa dilakukan sekitar tiga kali dalam seminggu.

“Sekarang produksi tidak bisa setiap hari, paling hanya tiga kali dalam seminggu. Kami harus mengatur supaya tetap bisa bertahan,” jelas Kasaid.

Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera melakukan stabilisasi harga bahan pokok, khususnya minyak goreng, kedelai, dan plastik kemasan. Mereka menilai, kondisi saat ini sangat membebani dan mengancam keberlangsungan usaha kecil di daerah tersebut.

“Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga, terutama minyak goreng dan kedelai, supaya usaha kecil seperti kami tetap bisa jalan,” pungkasnya. (ito/im)