NGANJUK - Ratusan warga bersama pedagang di bantaran Sungai Badug, Kecamatan Tanjung Anom, Kabupaten Nganjuk, menggelar tradisi larung sesaji, sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus harapan akan keberkahan rezeki.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipusatkan di area para pedagang ikan dan warung makanan di sekitar sungai. Suasana khidmat terasa saat warga dan pedagang memanjatkan doa demi keselamatan dan kelancaran usaha mereka.
Usai doa, para pedagang berbaris sambil membawa berbagai makanan yang akan dijadikan sesaji. Mereka kemudian menuju tepi Sungai Badug untuk melaksanakan prosesi larung.
Prosesi larung sesaji dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Badug. Dalam ritual tersebut, sesaji berupa ingkung ayam, pisang raja, serta dupa disiapkan sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur.
Sesaji kemudian ditempatkan di atas rakitan batang pohon pisang agar dapat terapung dan terbawa arus Sungai Badug.
Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Badug, Pujianto, mengatakan tradisi ini memiliki makna penting bagi para pedagang di kawasan tersebut.
“Tradisi larung sesaji ini merupakan penanda awal mula dibukanya kawasan kuliner Badug. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai pengingat bagi kami untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT,” ujar Pujianto.
Ia menambahkan, kegiatan ini rutin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi sekaligus mempererat kebersamaan antar pedagang dan warga.
Warga berharap, melalui tradisi larung sesaji ini, mereka mendapatkan keberkahan, kelancaran rezeki, serta keselamatan, khususnya bagi para pedagang yang menggantungkan mata pencaharian di sekitar Sungai Badug.
Tradisi ini pun menjadi daya tarik tersendiri, tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga berpotensi menarik perhatian pengunjung yang ingin menyaksikan kearifan budaya khas daerah. (syar/im)

