NGANJUK - SD Negeri Jatigreges 4, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, yang berada di kawasan kaki Gunung Wilis, kini menghadapi persoalan minimnya jumlah siswa. Tahun ini, total siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya berjumlah 33 anak.
Dari jumlah tersebut, siswa kelas 6 yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP hanya berjumlah delapan orang. Namun, para siswa dan orang tua mengaku resah dengan penerapan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB).
Pasalnya, jarak antara rumah siswa dengan sekolah tujuan mereka, yakni SMP Negeri 1 Pace, mencapai sekitar 10 kilometer. Sementara jalur afirmasi maupun ketentuan zonasi yang berlaku memiliki batas jarak maksimal sekitar 2 kilometer.
Kondisi tersebut membuat para siswa merasa kecil kemungkinan dapat diterima di SMP negeri favorit yang mereka inginkan.
Salah seorang siswa kelas 6, Maizatul Humairoh, mengaku berharap bisa melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Pace bersama teman-temannya.
“Saya ingin sekolah di SMP Negeri 1 Pace, tapi khawatir tidak bisa masuk karena jaraknya jauh dari rumah,” ujar Maizatul Humairoh.
Kepala SDN Jatigreges 4, Saiful Bahri, mengatakan selama ini siswanya memang kesulitan masuk ke SMP Negeri 1 Pace akibat sistem zonasi yang diterapkan.
Menurutnya, kondisi geografis wilayah pegunungan seharusnya menjadi pertimbangan khusus dalam kebijakan penerimaan siswa baru.
“Selama ini siswa kami hampir tidak pernah bisa masuk ke SMP Negeri 1 Pace karena terkendala zonasi. Kami berharap ada kebijakan afirmasi dengan kuota yang lebih besar untuk wilayah terpencil,” kata Saiful Bahri.
Ia berharap dinas terkait dapat memberikan solusi agar siswa dari daerah pelosok tetap memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan di sekolah negeri favorit.
Apabila harapan masuk ke SMP Negeri 1 Pace tidak terpenuhi, sebagian besar siswa SDN Jatigreges 4 kemungkinan akan melanjutkan pendidikan ke MTs yang berada di desa setempat. (syar/im)

