BOJONEGORO - Kelangkaan sapi potong mulai dirasakan sejumlah pedagang daging sapi di pasar tradisional Kabupaten Bojonegoro. Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Pasar Tradisional Banjarejo, di mana ketersediaan sapi yang siap dipotong mulai terbatas.
Terbatasnya sapi potong membuat pasokan daging sapi yang masuk ke pasar ikut berkurang. Para pedagang menyebut, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan sapi, tetapi juga adanya ketentuan mengenai hewan yang diperbolehkan untuk disembelih.
Tidak semua sapi dapat langsung dipotong. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya sapi jantan, memiliki bobot minimal empat kuintal, tidak dalam kondisi cacat, serta telah memenuhi batas usia yang dipersyaratkan.
Ketentuan tersebut membuat para jagal harus lebih selektif dalam mendapatkan sapi yang memenuhi persyaratan. Akibatnya, jumlah sapi yang dapat dipotong menjadi lebih terbatas dan berdampak pada berkurangnya pasokan daging sapi di pasar.
Kondisi tersebut kemudian turut berdampak pada harga daging sapi. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat masih tetap ada, harga daging sapi cenderung mengalami kenaikan.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Banjarejo, Rohmat, mengaku kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli daging sapi menjadi lebih sepi. Menurutnya, harga daging sapi saat ini telah mengalami kenaikan dan mencapai sekitar Rp140 ribu per kilogram.
“Sekarang pasokan sapi yang bisa dipotong memang terbatas. Dampaknya daging yang masuk ke pasar juga berkurang. Harga sekarang sudah sekitar Rp140 ribu per kilogram, sehingga pembeli juga semakin sepi,” ujar Rohmat.
Menurut pedagang, kondisi pasokan yang terbatas membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan daging sapi bagi masyarakat. Di sisi lain, kenaikan harga juga membuat sebagian konsumen mengurangi pembelian.
Para pedagang berharap pasokan sapi potong dapat kembali normal sehingga ketersediaan daging sapi di pasar tetap terjaga. Dengan pasokan yang kembali lancar, mereka berharap harga daging sapi juga dapat kembali terkendali.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga daging sapi berpotensi menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama bagi konsumen yang masih membutuhkan daging sapi untuk kebutuhan sehari-hari. (edo/im)

