Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Rabu, 16 September 2026, 17:44 WIB
Last Updated 2026-09-17T06:24:19Z
NganjukPojok PituViewerViral

Warga Desak Bupati Nganjuk Hentikan Proyek Wisata Buatan di Watulawang


NGANJUK - Puluhan warga yang terdiri dari anggota Ansor, aktivis lingkungan hidup, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta ahli konstruksi mendatangi Pendopo Kabupaten Nganjuk, Selasa sekitar pukul 19.00 WIB.

Kedatangan mereka untuk menyampaikan penolakan terhadap proyek wisata buatan di kawasan wisata religi Watulawang, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk.

Warga mendesak Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi segera menghentikan proyek tersebut. Mereka menilai pembangunan wisata buatan itu belum mengantongi perizinan secara lengkap.

Selain persoalan perizinan, warga juga menyoroti aktivitas pengerukan tanah di lereng Gunung Wilis. Menurut mereka, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko longsor dan mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di bawah kawasan Gunung Wilis.

Aktivis lingkungan hidup, Muhammad Didik, mengatakan penolakan dilakukan karena warga menilai kawasan Watulawang memiliki nilai penting, baik dari sisi lingkungan maupun sejarah.

“Kami menolak adanya wisata buatan di kawasan Watulawang karena selain persoalan lingkungan, tempat ini juga memiliki nilai sejarah dan merupakan kawasan yang dianggap sakral oleh masyarakat Nganjuk,” ujar Muhammad Didik.

Menurut warga, Watulawang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata religi. Dalam sejarah yang berkembang di masyarakat, lokasi tersebut disebut pernah menjadi tempat persinggahan para raja Mataram saat melakukan perjalanan menuju Surabaya.

Warga juga menilai pembangunan wisata buatan di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif sehingga meminta pemerintah daerah mempertimbangkan kembali proyek tersebut.

Sementara itu, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi belum memberikan pernyataan terkait tuntutan warga. Bupati memilih tidak memberikan keterangan karena akan ada pertemuan lebih lanjut untuk membahas persoalan tersebut.

Pertemuan lanjutan diharapkan dapat membahas keberadaan proyek, aspek perizinan, serta dampak lingkungan yang menjadi perhatian warga. (syar/im)