Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Selasa, 20 Oktober 2026, 12:58 WIB
Last Updated 2026-10-20T05:58:55Z
Edukasi | BudayaNganjukPojok PituViewerViral

Lintas Empat Generasi, Pengrajin Gamelan Mustika Laras Nganjuk Bertahan di Tengah Sepinya Pesanan


NGANJUK - Di tengah perkembangan zaman dan tantangan pasar, Galeri Gamelan Mustika Laras di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terus berupaya mempertahankan warisan pembuatan alat musik tradisional Jawa. Usaha yang dirintis sejak 1959 ini tidak hanya melayani pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau pasar luar negeri.

Aktivitas produksi gamelan di bengkel Mustika Laras membutuhkan ketelatenan dan ketelitian tinggi. Prosesnya dimulai dari penyiapan bahan baku, pembakaran, penyambungan menggunakan las listrik, hingga perapian dengan gerinda.

Salah satu tahapan yang paling sulit adalah tuning atau penyetelan nada. Pada tahap ini, pengrajin harus menyesuaikan tinggi rendah nada agar setiap instrumen menghasilkan bunyi yang sesuai. Setelah proses penyetelan selesai, gamelan kemudian dicat dan dikeringkan sebelum siap dipasarkan.

Pemilik Galeri Gamelan Mustika Laras, Nilunda Arsyi Parahita, merupakan penerus generasi keempat usaha keluarga tersebut. Ia mengaku mempertahankan usaha warisan leluhur bukanlah perkara mudah, terutama di tengah perubahan pasar, persaingan dengan produk modern, serta dampak efisiensi anggaran pemerintah terhadap permintaan gamelan.

Enam tahun lalu, Mustika Laras disebut mampu menerima pesanan lima hingga delapan set gamelan setiap bulan. Dengan harga sekitar Rp90 juta per set, usaha tersebut memiliki permintaan yang relatif tinggi.

Namun, kondisi itu kini berubah. Pesanan mengalami penurunan tajam, bahkan pada periode tertentu tidak ada pesanan sama sekali. Dampaknya, jumlah tenaga kerja yang sebelumnya mencapai 30 orang kini tersisa sekitar 10 karyawan.

“Dulu pesanan bisa mencapai lima sampai delapan set dalam sebulan. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Bahkan, ada waktu-waktu tertentu ketika kami sama sekali tidak menerima pesanan,” ujar Nilunda Arsyi Parahita kepada JTV.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Mustika Laras masih melayani pesanan dari sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Timur, Kalimantan, Sumatera, hingga Lampung. Produk gamelan buatan pengrajin Nganjuk ini juga telah menjangkau pasar internasional, di antaranya Singapura, Malaysia, Timor-Leste, dan Australia.

Nilunda berharap pemerintah turut mendukung keberlangsungan usaha pengrajin gamelan, terutama melalui perluasan akses pemasaran dan pengenalan alat musik tradisional tersebut kepada generasi muda.

Menurutnya, pengenalan gamelan di lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.

“Kami berharap ada dukungan untuk memperluas pemasaran gamelan dan mengenalkannya lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui sekolah-sekolah. Dengan begitu, gamelan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi mendatang,” ungkap Nilunda kepada JTV.

Galeri Gamelan Mustika Laras dirintis oleh Prawiro Gudel, kakek buyut Nilunda, pada 1959. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Nurhadi pada era 1980-an, sebelum dilanjutkan generasi ketiga, Didik Adiyono, pada 2008.

Pada 2023, estafet kepemimpinan usaha keluarga itu beralih kepada Nilunda. Sebagai penerus generasi keempat, ia berupaya menjaga kelangsungan produksi sekaligus mempertahankan kualitas gamelan yang telah diwariskan selama puluhan tahun.

Di tengah penurunan pesanan dan berkurangnya tenaga kerja, Mustika Laras terus berusaha bertahan agar tradisi pembuatan gamelan tetap hidup. Harapannya, dukungan pemasaran dan pengenalan budaya yang lebih luas dapat membuka peluang baru bagi para pengrajin sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari. (syar/im)