NGANJUK – Proyek pembangunan jalan beton di Desa Kedung Mlaten, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, menuai sorotan tajam. Jalan sepanjang 100 meter yang baru rampung pada Desember 2025 itu kini sudah dalam kondisi rusak parah.
Kerusakan terjadi pada Februari 2026, atau hanya dalam hitungan bulan setelah pembangunan selesai. Jalan yang dibangun menggunakan anggaran APBD sebesar Rp237 juta tersebut kini tidak bisa difungsikan secara normal.
Padahal, jalan ini merupakan satu-satunya akses utama bagi warga, terutama anak sekolah dan petani menuju Kecamatan Patianrowo.
Akibat kerusakan tersebut, kendaraan roda dua hanya bisa melintas dengan memanfaatkan sebagian tanah milik warga. Sementara kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melewati jalur tersebut.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran warga. Sedikitnya empat rumah yang berada di sekitar lokasi terancam longsor jika kerusakan tidak segera ditangani.
Salah satu warga terdampak, Sumadi, menyebut pembangunan jalan diduga tidak dilengkapi konstruksi penahan di bagian bawah.
“Tidak ada penahan di bawahnya. Jadi waktu air sungai naik, langsung menggerus bagian bawah jalan beton,” ujarnya.
Ia menambahkan, jarak antara titik longsor dengan rumahnya hanya sekitar empat meter. Kondisi ini membuatnya khawatir rumahnya ikut terdampak jika tidak segera dilakukan perbaikan.
“Kalau tidak cepat dibenahi, bisa membahayakan rumah kami,” tambahnya.
Ironisnya, hingga kini belum ada respons serius dari pihak pemborong, pemerintah desa, maupun dinas terkait untuk melakukan perbaikan.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan mengevaluasi kualitas proyek sekaligus melakukan penanganan cepat, mengingat jalan tersebut menjadi akses vital bagi aktivitas sehari-hari masyarakat. (syar/im)

