NGAWI - Ketersediaan minyak goreng bersubsidi Minyakita di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ngawi mengalami kekosongan dalam beberapa pekan terakhir. Para pedagang mengaku tidak lagi mendapatkan pasokan minyak goreng tersebut, sehingga berdampak pada aktivitas jual beli.
Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) menyatakan kondisi tersebut disebabkan oleh keterbatasan distribusi dari pihak penyalur.
Kepala Bidang Tata Niaga Perdagangan DPPTK Ngawi, Susana, menjelaskan bahwa peran dinas dalam distribusi Minyakita hanya sebatas pendampingan, sementara pengaturan stok dan penyaluran menjadi kewenangan Bulog dan BUMN pangan lainnya.
“Kami di dinas hanya melakukan pendampingan. Untuk distribusi dan ketersediaan stok itu menjadi kewenangan Bulog dan BUMN pangan,” ujar Susana.
Ia menyebut, distribusi terakhir Minyakita di Ngawi dilakukan pada 28 April 2026, dengan jumlah 150 karton atau sekitar 1.800 liter. Namun, penyaluran tersebut hanya dilakukan di Pasar Walikukun yang masuk dalam skema Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
“Distribusi terakhir hanya di Pasar Walikukun, karena saat ini penyaluran dari Bulog difokuskan pada pasar yang masuk dalam SP2KP,” jelasnya.
Kondisi ini membuat sejumlah pasar lain di Ngawi belum mendapatkan pasokan Minyakita, sehingga memicu kelangkaan di tingkat pedagang.
Susana berharap ke depan distribusi Minyakita dapat diperluas, tidak hanya terbatas pada pasar SP2KP, tetapi juga menjangkau pasar yang masuk dalam sistem Siskaperbapo.
“Kami berharap distribusi bisa lebih merata, tidak hanya di pasar SP2KP, tapi juga sampai ke pasar-pasar lain seperti Siskaperbapo,” tambahnya.
Sementara itu, para pedagang berharap pasokan Minyakita segera kembali normal agar harga tetap terjangkau dan aktivitas perdagangan tidak terganggu. (ito/im)

