Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Rabu, 08 Juli 2026, 22:36 WIB
Last Updated 2026-07-08T15:36:25Z
Hukum | PeristiwaTubanViewerViral

Imbas Kandang Bumdes, Pemukiman di Tuban Diserang Lalat


TUBAN - Ribuan lalat hitam dilaporkan menyerang permukiman warga di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Rabu pagi. Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari usaha warung makan hingga kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Dalam rekaman video amatir milik warga, ribuan lalat tampak memenuhi area warung es dan warung makan. Serangga tersebut hinggap di meja, makanan, hingga peralatan makan sehingga membuat pelanggan enggan datang.

Akibatnya, sejumlah pemilik warung mengaku mengalami penurunan omzet karena berkurangnya jumlah pembeli.

Tidak hanya di area usaha, warga juga menyebut serangan lalat mulai mengganggu aktivitas belajar di sekolah yang berada di desa tersebut. Para siswa disebut harus berulang kali mengusir lalat yang masuk ke ruang kelas saat proses pembelajaran berlangsung.

Salah seorang warga, Abdul Majid, mengaku kemunculan lalat mulai dirasakan sejak sekitar tiga bulan terakhir, bertepatan dengan mulai beroperasinya kandang ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Warga juga menyatakan menyesalkan karena, menurut mereka, pembangunan kandang dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai kepada masyarakat sekitar.

"Sejak kandang ayam mulai beroperasi, jumlah lalat meningkat dan sangat mengganggu aktivitas warga. Kami berharap ada solusi agar kondisi ini segera teratasi," ujar Abdul Majid.

Merasa keluhan mereka belum membuahkan hasil, warga kemudian meminta pendampingan lembaga bantuan hukum. Mereka juga telah melakukan audiensi dengan pihak BUMDes dan pemerintah kecamatan, serta meminta DPRD Kabupaten Tuban ikut mengawal penyelesaian persoalan tersebut.

Didampingi kuasa hukum, warga mendatangi lokasi kandang ayam petelur dan mendesak agar fasilitas tersebut dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh dari kawasan permukiman.

Kuasa hukum warga, Subakir, mengatakan masyarakat menginginkan penyelesaian yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi lingkungan sekitar.

"Harapan warga sederhana, yaitu mencari solusi agar aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu. Salah satu usulan yang disampaikan adalah memindahkan kandang ke lokasi yang lebih jauh dari permukiman," kata Subakir.

Sementara itu, Ketua BUMDes Tuwiri Wetan, Sagaf, membantah tudingan bahwa pengelola tidak pernah melakukan sosialisasi sebelum kandang ayam beroperasi.

Menurut Sagaf, pihak BUMDes telah melakukan sosialisasi secara langsung kepada warga dari rumah ke rumah maupun melalui pertemuan di balai desa. Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih mempertahankan lokasi kandang karena menilai operasional telah berjalan sesuai rencana.

"Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum kandang beroperasi, baik secara langsung maupun melalui pertemuan di balai desa. Saat ini kami masih mempertahankan lokasi kandang tersebut," ujar Sagaf.

Meski demikian, warga menyatakan akan terus memperjuangkan aspirasinya hingga diperoleh solusi yang dinilai dapat mengatasi persoalan serangan lalat. Mereka khawatir apabila kondisi tersebut terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan kenyamanan proses belajar anak-anak.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada hasil kesepakatan antara warga dan pihak BUMDes terkait penyelesaian persoalan tersebut. Pemerintah desa maupun instansi terkait diharapkan dapat memfasilitasi dialog untuk mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.