BOJONEGORO - Musim kemarau yang masih berlangsung membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro mengalami kekeringan. Kondisi tersebut terutama dirasakan masyarakat yang selama ini mengandalkan sumur dan mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, tercatat sebanyak 12 kecamatan dan 27 desa masih terdampak kekeringan.
Kondisi kekeringan menyebabkan sejumlah sumber air milik warga mulai mengering. Akibatnya, masyarakat harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sebagian warga terpaksa mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah.
Kesulitan mendapatkan air paling dirasakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga mencuci.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui BPBD terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang terdampak kekeringan. Penyaluran bantuan air bersih juga dilakukan secara bertahap sebagai upaya membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro, Ristony Eka Putra, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kondisi sumber air di sejumlah wilayah yang terdampak.
Selain melakukan pemantauan, BPBD juga terus menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang membutuhkan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Dengan masih terdapat 12 kecamatan dan 27 desa yang terdampak kekeringan, masyarakat berharap distribusi bantuan air bersih dapat terus dilakukan hingga kondisi sumber air kembali normal.
Warga juga berharap musim kemarau segera berakhir sehingga sumur dan mata air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga dapat kembali terisi. (edo/im)

