Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Kamis, 20 Agustus 2026, 15:40 WIB
Last Updated 2026-08-20T08:40:12Z
NgawiPojok PituViewerViral

Krisis Air Bersih di Ngawi Meluas, 11 Dusun dan 563 KK Terdampak


NGAWI - Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Ngawi semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi mencatat, jumlah wilayah yang terdampak kini mencapai 11 dusun, meningkat dari sebelumnya yang hanya sembilan dusun.

Ratusan warga terdampak akibat sejumlah sumber air mulai mengering. Berdasarkan data terbaru BPBD Ngawi, sedikitnya 563 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Pelaksana BPBD Ngawi, Prila Yuda Putra, mengatakan wilayah yang saat ini mengalami krisis air bersih di antaranya Dusun Pakolan, Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati, serta Dusun Blandongan, Desa Karangasri, Kecamatan Ngawi.

“Saat ini ada penambahan wilayah yang terdampak. Dari sebelumnya sembilan dusun, sekarang menjadi 11 dusun. Total warga yang terdampak mencapai sekitar 563 KK,” ujar Prila Yuda Putra.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Ngawi bersama sejumlah instansi dan organisasi terus melakukan pendistribusian air ke wilayah terdampak.

Sejumlah pihak yang turut terlibat dalam penanganan krisis air bersih tersebut di antaranya Palang Merah Indonesia (PMI), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta organisasi kemasyarakatan KAGAMA.

Setiap hari, rata-rata terdapat sekitar empat tangki air bersih yang didistribusikan ke wilayah terdampak. Masing-masing tangki memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter.

Dengan demikian, dalam sehari bantuan yang disalurkan rata-rata mencapai sekitar 20 ribu liter air bersih.

Prila menambahkan, sejak penyaluran dimulai pada 2 Agustus 2026 hingga saat ini, BPBD bersama instansi terkait telah mendistribusikan lebih dari 50 tangki air bersih kepada masyarakat yang terdampak.

“Rata-rata setiap hari kami melakukan dropping sekitar empat tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter. Sejak 2 Agustus sampai sekarang, sudah lebih dari 50 tangki air bersih yang kami salurkan bersama instansi terkait,” jelasnya.

Selain mengandalkan distribusi air bersih menggunakan tangki, upaya penanganan krisis air juga dilakukan melalui penyediaan sumber air baru.

Prila mengatakan, pihak TNI saat ini turut membantu dengan pembangunan sebanyak 56 sumur bor di sejumlah wilayah yang rawan terdampak kekeringan.

Tidak hanya itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga memberikan bantuan berupa pembangunan lima titik sumur di lokasi yang mengalami krisis air bersih.

“Dari TNI juga ada bantuan 56 sumur bor. Kemudian dari BNPB ada lima titik sumur bantuan yang ditempatkan di daerah-daerah yang rawan terdampak kekeringan,” tambah Prila.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat, sehingga kebutuhan air bersih tidak hanya bergantung pada distribusi tangki selama musim kemarau.

Sementara untuk penanganan dalam jangka pendek, BPBD Ngawi memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan ke wilayah yang masih mengalami krisis air, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah terdampak. (ito/im)