Iklan Beranda

Sketsa Bengawan
Selasa, 01 September 2026, 15:57 WIB
Last Updated 2026-09-01T08:57:44Z
NganjukPojok PituPolitik | PemerintahanViewerViral

Hari Pertama Masuk Asrama, Sejumlah Siswa Sekolah Rakyat Nganjuk Masih Menangis Tinggalkan Keluarga


NGANJUK - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen berbeda bagi para siswa Sekolah Rakyat Kabupaten Nganjuk. Selain menjadi hari pertama mengenal lingkungan sekolah, kegiatan tersebut juga menjadi hari pertama para siswa masuk dan tinggal di asrama.

Bagi sebagian siswa, tinggal di asrama dan harus berpisah sementara dari keluarga bukan hal yang mudah. Terlebih, sebelumnya mereka terbiasa berkumpul bersama orang tua dan keluarga setiap hari.

Suasana haru bahkan terlihat saat sejumlah orang tua mengantar anak-anak mereka ke asrama. Ada siswa yang masih belum siap meninggalkan keluarga dan menangis ketika orang tuanya berpamitan untuk pulang.

Salah satunya seorang siswa asal Kecamatan Sawahan. Siswa tersebut terus menangis setelah ditinggal ibunya pulang. Pengasuh asrama kemudian berusaha membujuk dan menenangkan siswa tersebut agar dapat mengikuti rangkaian kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat.

Salah satu siswa Sekolah Rakyat, Putri Velia, mengaku merasa senang bisa bersekolah di tempat tersebut. Namun, di sisi lain, ia juga merasa sedih karena harus berpisah dengan kedua adiknya.

“Senang, tetapi juga sedih karena harus berpisah dengan dua adik,” ujar Putri Velia.

Sebelumnya, Putri Velia bersekolah di SMP Negeri 2 Nganjuk. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, ia harus bersedia mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat sekaligus tinggal di asrama.

Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan jauh dari keluarga, Putri berusaha mengikuti seluruh kegiatan yang telah disiapkan pihak sekolah.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Nganjuk, Zuana Nurul Huda, mengatakan sistem pendidikan di Sekolah Rakyat memang dirancang dengan pola asrama. Menurutnya, pelaksanaan program tersebut telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan pemerintah.

“Program Sekolah Rakyat ini sudah sesuai dengan SOP yang ditetapkan. Karena konsepnya sekolah berasrama, seluruh siswa nantinya tinggal di asrama dan mendapatkan pendampingan dari pengasuh,” jelas Zuana Nurul Huda.

Di Sekolah Rakyat, seluruh siswa diwajibkan tinggal di asrama. Masing-masing asrama juga dilengkapi pengasuh yang bertugas mendampingi, membimbing, sekaligus membantu siswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari selama berada di lingkungan sekolah.

Pola tersebut diharapkan dapat membentuk kemandirian siswa, sekaligus memberikan pendampingan selama mereka menjalani proses pendidikan.

Pada hari pertama masuk asrama, proses adaptasi menjadi salah satu tantangan yang harus dilalui siswa. Pihak sekolah bersama para pengasuh terus memberikan pendampingan agar siswa dapat merasa nyaman dan perlahan terbiasa dengan lingkungan baru.

Di sisi lain, pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat Kabupaten Nganjuk hingga kini masih terus dikebut. Pembangunan dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas pendukung pendidikan dan asrama dapat segera digunakan secara optimal.

Pembangunan Sekolah Rakyat tersebut ditargetkan selesai sesuai batas waktu yang telah ditetapkan, yakni hingga pertengahan September 2026.

Dengan adanya pendampingan dari pengasuh dan dukungan pihak sekolah, para siswa diharapkan dapat segera beradaptasi dengan kehidupan asrama serta mengikuti proses pembelajaran dengan baik. (syar/im)