NGAWI - Tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Ngawi menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ngawi. Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) segera melakukan pemetaan serta pendataan langsung di lapangan untuk mengetahui penyebab tingginya angka putus sekolah tersebut.
Menurut Ony, penanganan kasus putus sekolah tidak cukup hanya berdasarkan data jumlah siswa semata, tetapi juga harus disertai identifikasi detail terkait faktor penyebabnya agar solusi yang diberikan bisa tepat sasaran.
Ia menegaskan, berbagai faktor seperti kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial, hingga persoalan keluarga harus dipetakan secara rinci. Hal tersebut penting untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai bagi masing-masing siswa.
“Penanganannya tidak bisa hanya melihat angka kasus saja. Harus diketahui penyebab detailnya, apakah faktor ekonomi, keluarga, atau sosial masyarakat sehingga solusi yang diberikan benar-benar tepat,” ungkap Ony Anwar Harsono.
Bupati juga menilai persoalan biaya pendidikan seharusnya tidak lagi menjadi alasan utama anak putus sekolah. Sebab, pemerintah pusat telah menyediakan berbagai bantuan pendidikan, salah satunya melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP).
“Saat ini sudah ada program KIP untuk membantu pendidikan siswa. Karena itu perlu dipastikan lagi apa penyebab utama anak-anak sampai tidak melanjutkan sekolah,” pungkasnya.
Selain itu, Pemerintah juga telah menyiapkan program Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi keluarga kategori desil I dan desil II. Ony berharap siswa putus sekolah di Ngawi nantinya dapat terakomodasi dalam program tersebut.
Meski demikian, ia kembali menekankan pentingnya pemetaan penyebab putus sekolah agar tindak lanjut penanganan dapat dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, angka putus sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) tercatat sebanyak 200 siswa atau sekitar 0,4 persen dari total 44.500 siswa yang tersebar di 502 sekolah.
Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), jumlah siswa putus sekolah mencapai 530 siswa atau sekitar 2,3 persen dari total 22.500 siswa yang tersebar di 82 sekolah di Kabupaten Ngawi. (ito/im)

