NGAWI - Suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung penuh makna di sebuah pondok pesantren di Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Senin.
Ratusan santriwati bersama 87 mantan anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan mantan narapidana terorisme (napiter) mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Para mantan anggota JI dan napiter tampak mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat. Mereka mengenakan pakaian batik dan peci yang dihiasi pita merah putih sebagai simbol kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Upacara berlangsung sebagaimana prosesi peringatan kemerdekaan pada umumnya. Rangkaian kegiatan meliputi pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan teks Proklamasi, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hingga pembacaan ikrar setia kepada NKRI.
Kehadiran para mantan anggota JI dan napiter dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kesadaran dan keinginan mereka untuk mengikuti peringatan kemerdekaan. Selain itu, mereka juga hadir berdasarkan undangan resmi pemerintah daerah yang bekerja sama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kementerian Agama, serta jajaran TNI-Polri setempat.
Salah seorang mantan anggota kelompok JI, Arya Auliya Rohman, mengaku tahun ini menjadi kali keempat dirinya mengikuti upacara peringatan kemerdekaan bersama rekan-rekannya.
Menurutnya, mengikuti upacara kemerdekaan setelah kembali ke pangkuan NKRI memberikan perasaan haru dan kebahagiaan tersendiri. Terlebih, kegiatan tersebut menjadi pengingat atas komitmen mereka untuk kembali setia kepada Indonesia.
“Ini sudah kali keempat saya mengikuti upacara kemerdekaan bersama teman-teman. Ada rasa haru dan kebahagiaan tersendiri ketika bisa mengikuti upacara seperti ini, apalagi setelah kami kembali ke pangkuan NKRI dan berikrar setia kepada Indonesia,” ujar Arya Auliya Rohman.
Ia mengatakan, momentum peringatan kemerdekaan menjadi kesempatan bagi dirinya dan rekan-rekannya untuk menunjukkan komitmen dalam menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Sementara itu, perwakilan Kementerian Agama, M. Khoirul Rifai, mengatakan pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI bersama santriwati, mantan anggota JI, dan mantan napiter menjadi simbol bahwa NKRI memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin kembali dan berkontribusi untuk negara.
“Kegiatan ini menjadi wujud bahwa NKRI memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin kembali, kemudian berbakti dan memberikan kontribusi kepada negara. Ini menjadi momentum yang sangat baik untuk memperkuat kembali rasa kebangsaan,” ujar M. Khoirul Rifai, Kasubag TU Direktorat Pesantren, Kementerian Agama RI.
Menurutnya, proses kembali ke tengah masyarakat harus terus didukung dengan kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan rasa kebangsaan, persatuan, dan kecintaan terhadap NKRI.
Kegiatan upacara bendera yang melibatkan mantan anggota kelompok JI dan mantan napiter ini juga bukan kali pertama dilakukan. Kegiatan serupa telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya dan menjadi bagian dari proses penguatan ikrar serta komitmen untuk kembali kepada NKRI.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi ruang bersama untuk memperkuat persatuan. Kehadiran para mantan anggota JI dan napiter dalam upacara tersebut menunjukkan komitmen untuk meninggalkan masa lalu dan melanjutkan kehidupan dengan semangat kebangsaan serta kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. (ito/im)

