NGAWI - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan hutan lindung dan hutan produksi Gunung Butak, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Kebakaran yang terjadi sejak Minggu petang tersebut hingga kini masih dalam pemantauan petugas gabungan.
Kondisi medan yang sulit membuat petugas kesulitan melakukan pemadaman secara langsung. Upaya penanganan sementara dilakukan dengan membuat ilaran atau sekat bakar untuk mencegah api terus menjalar ke area lainnya.
Camat Sine, Agus Dwi Narimo, mengatakan berdasarkan hasil koordinasi dengan petugas Perhutani, titik api berada di petak 2A1, 2A2, dan 2B, yang masuk kawasan hutan lindung dan hutan produksi RPH Salam, BKPH Lawu Utara, KPH Lawu DS.
Menurut Agus, selain medan yang sulit dijangkau, proses pemadaman juga terkendala kondisi banyaknya pohon pinus yang terbakar. Pohon-pohon tersebut rawan tumbang sehingga membahayakan keselamatan petugas apabila pemadaman dilakukan terlalu dekat dengan titik api.
“Medannya cukup sulit. Selain itu banyak pohon pinus yang terbakar dan rawan tumbang, sehingga cukup membahayakan petugas yang melakukan pemadaman,” kata Agus Dwi Narimo.
Agus menyebut, hingga saat ini luas area yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 40 hektare.
Titik awal kebakaran diketahui berada di wilayah Desa Kuniran. Api kemudian meluas hingga ke wilayah Desa Sumbersari.
Karhutla di kawasan Gunung Butak tersebut merupakan kejadian kedua. Sebelumnya, kebakaran serupa juga pernah terjadi pada 2023.
Hingga kini, sejumlah petugas gabungan terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan api. Pemantauan dilakukan secara intensif karena lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan permukiman warga.
Petugas juga terus melakukan upaya pencegahan agar kobaran api tidak semakin meluas dengan membuat ilaran di sejumlah titik.
Sementara itu, penyebab kebakaran hutan pinus di kawasan Gunung Butak masih dalam penyelidikan. Petugas masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya titik api. (ito/im)

