NGAWI - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi mencatat peningkatan luas tanam tembakau pada 2026. Kondisi kemarau panjang mendorong sejumlah petani memanfaatkan lahan pertanian mereka untuk membudidayakan tembakau.
Kabid Perkebunan dan Hortikultura DKPP Ngawi, Anita Denni Arganingrum, mengatakan luas lahan tembakau tahun ini mencapai 2.000 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 1.300 hektare.
Dari total luas lahan tersebut, sekitar 95 persen atau setara 1.900 hektare telah memasuki masa panen. Sementara itu, sekitar 5 persen atau 100 hektare lainnya masih belum dipanen. DKPP Ngawi menargetkan seluruh proses panen dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026.
“Luas tanam tembakau tahun ini mencapai sekitar 2.000 hektare, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 1.300 hektare. Hingga saat ini, sekitar 95 persen lahan sudah dipanen dan sisanya ditargetkan selesai pada akhir Oktober,” ujar Anita Denni Arganingrum kepada JTV.
Dari sisi produktivitas, hasil panen tembakau di Ngawi rata-rata mencapai 1,5 hingga 1,8 ton per hektare. Secara keseluruhan, produksi tembakau tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 3.420 ton.
Selain peningkatan luas tanam dan produksi, harga tembakau rajangan kering juga dinilai cukup menjanjikan. Saat ini, harga berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram, bergantung pada kualitas tembakau.
Anita menambahkan, persebaran lahan tembakau di Kabupaten Ngawi kini telah menjangkau 14 kecamatan. Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan luas tanam dengan mempertimbangkan potensi pengembangan komoditas tembakau di wilayah tersebut.
Dengan meningkatnya luas tanam, produksi, serta harga jual yang dinilai menjanjikan, tembakau menjadi salah satu komoditas yang dimanfaatkan petani Ngawi selama musim kemarau. Meski demikian, hasil akhir tetap dipengaruhi produktivitas tanaman dan kualitas tembakau yang dihasilkan. (ito/im)

