NGAWI - Ketidakstabilan ekonomi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada sektor industri di Kabupaten Ngawi. Sejumlah industri berbasis Penanaman Modal Asing (PMA) yang mengandalkan pasar ekspor kini mengalami hambatan distribusi ke luar negeri.
Akibat kondisi tersebut, beberapa perusahaan untuk sementara menahan pengiriman dan memilih menyimpan hasil produksi guna menambah stok gudang.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengatakan bahwa industri yang masih dalam tahap pembangunan belum terdampak signifikan. Namun, bagi perusahaan yang sudah berproduksi, gangguan ekspor mulai dirasakan.
Ia menyebut beberapa perusahaan yang terdampak di antaranya industri alas kaki dan manufaktur mainan yang berorientasi ekspor.
“Dari informasi yang kami terima, beberapa perusahaan PMA yang sudah berproduksi saat ini mengalami kendala ekspor. Namun mereka tetap menjalankan produksi sambil menambah stok di gudang,” ujar Dwi Rianto Jatmiko.
Meski menghadapi tekanan, pihak industri disebut berkomitmen untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebagai langkah antisipasi, perusahaan tetap menjaga aktivitas produksi agar operasional dan tenaga kerja tetap berjalan.
Selain kendala ekspor, sejumlah industri juga mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku. Hal ini turut dipengaruhi oleh situasi global yang belum stabil, sehingga berdampak pada rantai pasok internasional.
Pemerintah daerah berharap kondisi global segera membaik agar aktivitas industri dan ekspor di Kabupaten Ngawi dapat kembali normal serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (ito/im)

